Minggu, 18 Desember 2011

Pada Dermaga Tua

Kepada dermaga tua
yang tak lain adalah kesaksian
Menjadi tempatr singgah terakhir
Dalam seulas kisah

Kepada dermaga tua
Angin berembus
Berusaha memisahkan entah melarang
Membawa kesuatu tempat asing
Yang tak lain adalah penjara

Kepada dermaga tua
kapal-kapal menjadi nestapa
Menuju keperasingan
Mencari kanvas baru


(18-12-2011)

Kesaksian Bisu

Tak seperti kisahmu
Aku tertawa renyah mendengarnya
Pada dermaga ini
Adalah kesaksian kau pergi
dan tak akan kembali
Merintis kegiatan baru
Pun teman baru
Melupakan aku meski kau bilang "kita teman selamanya ... "
Aku bisa menyandramu
Bila aku ingin
Membiarkan cinta itu pergi
Tinggalkan satu kembang edelweis yang ayu untukku sebelum kau pergi
saat kembang itu mati kau pasti pulang
Ah, itu palsu


(18-12-2011)

Sabtu, 17 Desember 2011

Bersadrah Pada Beranda

Terpaut ku pada hujan

Menatap dari beranda

Tetes-tetes adalah musibah

setetes arti berarti

Jejak palsu yang tertera

Sesat saat kediaman

Diam-diam adalah api

Sajak miskin makna

Hujan tanpa angin

Adalah hampa

Tersesat, entah apa

Terbeban ku dipikul

Bersadrah pada rembulan


(17-12-2011)

Tanpa Petunjuk

Batu naunganku

jemari mengetuk-ngetuk pada landasan

Terhempas samudra

Terjun tertarik ikan berenang-renang

Segi tiga permuda sebentar lagi

Menelan makhluk hidup

Hilang tersesat hamparan laut luas

Kembali adalah palsu

Menatap remang-remang kedepan

Ombak bergulung dengan besar


(16-12-2011)

Tak Ada Alasan Untuk Hujan

Kilat guntur gemuruh hujan

Tertahan hujan pada penampungan

Merembas sepersekian detik

Tersisa hujan di atas awan

Di atas gemuruh langit

Kilat bermain perang

Menyambar-nyambar kaki langit

mengalah pada matahari

Menyembur air pada permukaan

Terlihat sedih

Langit ikut murka

Rindu, melepas air bening

Matahari sudah tiada

Menjadi kota mati



(16-12-2011)

Mega Mendung

Terdiam mengkerik pada sudut malam

Jerit melengking terduga

Tergoyang baahu menatap

Yang welas semakin dibutuhkan

Jangkrik menyaring berteriak

Tertutup wahai bulan

Dingin menusuk sepertinya

Kesunyian hati merindu

Tersakiti hati terluka

Menatap indah bintang

Lima sudut yang runcing

terlampiaskan pada malam ini

tersilak angin malam

berganti pada matahari

tetap mendung menanti


 (16-12-2011)
Terdiam mengkerik pada sudut malam

Jerit melengking terduga

Tergoyang bahu menatap

Yang welas semakin dibutuhkan

Jangkrik menyaring berteriak

Tertutup wahai bulan

Dingin menusuk sepertinya

Kesunyian hati merindu

Tersakiti hati terluka

Menatap indah bintang

Lima sudut yang runcing

terlampiaskan pada malam ini

tersilak angin malam

berganti pada matahari

tetap mendung menanti